JAKARTA, bentala-news.com β Fenomena perusahaan yang mulai banyak memberhentikan karyawan dari kalangan Generasi Z atau Gen Z tengah menjadi sorotan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Generasi yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 itu dinilai memiliki tantangan tersendiri dalam beradaptasi di dunia kerja modern.
Laporan dari platform konsultasi pendidikan dan karier Intelligent.com mengungkapkan bahwa 6 dari 10 perusahaan yang merekrut lulusan baru pada 2024 mengaku telah memecat sebagian pekerja Gen Z yang baru direkrut. Survei tersebut melibatkan sekitar 1.000 manajer perekrutan dan HR dari berbagai perusahaan.
Selain itu, satu dari enam perusahaan bahkan mengaku ragu untuk kembali merekrut lulusan baru dari kalangan Gen Z karena dianggap belum siap menghadapi dunia kerja profesional.
Berdasarkan hasil survei tersebut, terdapat sejumlah alasan utama mengapa perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap pekerja Gen Z. Faktor terbesar adalah kurangnya motivasi dan inisiatif kerja yang mencapai 50 persen. Kemudian disusul kurang profesional sebesar 46 persen, kemampuan organisasi yang buruk 42 persen, serta keterampilan komunikasi yang dinilai lemah sebesar 39 persen.
Masalah lain yang juga menjadi perhatian perusahaan adalah sulit menerima kritik atau masukan, kurang pengalaman kerja relevan, hingga lemahnya kemampuan pemecahan masalah dan kerja tim.
Dosen senior di Haas School of Business University of California Berkeley, Holly Schroth, menilai banyak pekerja Gen Z memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap dunia kerja karena lebih fokus pada aktivitas akademik dan ekstrakurikuler dibanding pengalaman profesional nyata.
βMereka tidak mengetahui keterampilan dasar untuk interaksi sosial dengan pelanggan, klien, dan rekan kerja, atau etika di tempat kerja,β ujar Holly Schroth seperti dikutip Euronews.
Namun di sisi lain, sejumlah pengamat menilai fenomena ini tidak sepenuhnya kesalahan Gen Z. Perubahan pola kerja pasca pandemi, budaya kerja yang semakin fleksibel, hingga tekanan ekonomi global juga menjadi faktor yang memengaruhi hubungan antara perusahaan dan pekerja muda.
Di media sosial dan forum internet seperti Reddit, banyak pekerja muda mengeluhkan lingkungan kerja yang dianggap tidak sehat, minim pembinaan, dan terlalu cepat memberikan penilaian terhadap karyawan baru. Sejumlah pekerja bahkan mengaku dipecat hanya beberapa hari setelah mulai bekerja karena dianggap tidak cepat beradaptasi.
Ketua Ikatan SDM Profesional Indonesia (ISPI), Ivan Taufiza, sebelumnya juga menyebut dunia usaha saat ini tengah berada dalam tekanan ekonomi sehingga perusahaan cenderung lebih selektif dalam merekrut maupun mempertahankan pekerja baru.
Menurutnya, banyak perusahaan kini menahan ekspansi dan memperketat efisiensi operasional akibat meningkatnya biaya usaha dan ketidakpastian ekonomi global.
Meski mendapat banyak kritik, Gen Z juga dinilai memiliki sejumlah kelebihan dibanding generasi sebelumnya, terutama dalam penguasaan teknologi digital, kreativitas, serta keberanian menyampaikan pendapat. Banyak perusahaan teknologi dan industri kreatif masih menjadikan Gen Z sebagai tulang punggung regenerasi tenaga kerja di masa depan.
Para pakar ketenagakerjaan menyarankan perusahaan agar tidak hanya fokus pada produktivitas, tetapi juga memperkuat sistem mentoring dan pelatihan kerja bagi pekerja muda. Sebaliknya, Gen Z juga didorong untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, disiplin, dan adaptasi terhadap budaya kerja profesional agar mampu bertahan di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat.





